Kamis, 09 Mei 2013

Bicara Cinta di Siang Bolong (karya : Kurniawan Gunadi)


“Cinta itu tidak menetap, ia berpindah seperti berpindahnya diri kita dari satu tempat ke tempat lain. Naik turun bukit, melampaui jalan terjal dan jalan aspal. Dikenai terik dan hujan. Dirasai panas dan dingin. Ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain mencari perlindungan dan selalu mencari tempat yang aman untuk tinggal. Padahal tempat tinggal itu tidak ada di dunia.”

Aku lantas bertanya, “Dimana?”
Teman bijakku ini tersenyum. “Surga, tempatnya ada di akhirat”
Aku bertanya lagi, “Tadi kau bilang, ia berpindah tempat, apa kabar kesetiaan”
Temanku tersenyum lagi dan menjawab, “Kesetiaan itu ketika kamu ikut serta menyertai perpindahan itu, bukan menunggu dengan santai hingga dia kembali kepadamu”
Ia menoleh dan bertanya, “Kamu memahaminya?”
“Agak sulit, tapi aku paham sesuatu”, Aku menjawab sekenanya.
“Hahahaa tak perlu memikirkannya pusing-pusing, karena kamu tidak akan merasai perpindahan tersebut seperti saat ini, kita duduk diatas bumi yang bergerak sangat cepat, diatas tanah yang bergeser setiap tahun. Kita tidak merasai perpindahan tersebut. Kita hanya merasakan dampaknya. Siang malam, musim berganti, gempa dan banjir. Cinta juga seperti itu, kita tidak pernah memahami bahkan melihatnya, tapi kita merasakan dampaknya”. Dia melanjutkan.
“Panas dingin, tidak bisa tidur. Bingung. Sedih dan bahagia tiba-tiba. Gelisah. Apa lagi ?” Aku menimpali.
“Hahahahaa”, kami tertawa bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar